[ISBD] KISAH PERJUANGAN IBU

 

TUGAS ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

“KISAH PERJUANGAN ORANG TUA UNTUK ANAKNYA”

 

LOGO

 

 

NAMA :

ANISA TARTILATUL HASANAH

(B32160230)

PROGRAM STUDI :

TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN

 

 

 

 

 

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2016

 

 

 

 

  1. Dua puluh satu tahun merawat anak kembar obesitasnya

Seorang ibu orangtua tunggal di China harus banting tulang lantaran mempunyai dua anak lelaki kembar dengan keterbelakangan mental dan kelebihan bobot berat badan (obesitas). Ma Zhiqiu, nama ibu itu, telah merawat dua anak kesayangannya sejak kelahiran mereka 23 Februari 1994. Ma melahirkan kedua putra kembarnya saat berumur 26 tahun. Namun begitu sedihnya dia, saat dokter memvonis kedua anaknya akan menderita keterbelakangan mental dan gangguan kesehatan dikarenakan kelahirannya yang prematur. Akibat vonis dokter, Ma memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan lebih fokus dalam merawat kedua anak tercintanya. Nahas baginya, sang suami malah memilih untuk bercerai, lantaran tak sanggup menerima kenyataan hidup kedua anak kembarnya terlahir tidak normal.

Anak tertua Ma, Zhang Hangjun, menderita obesitas dengan berat badan 250 kilogram. Akibat kelebihan bobotnya, dia bahkan tidak bisa sama sekali untuk beranjak dari kasurnya. Hidupnya hanya dihabiskan di atas tempat tidur. Lalu, Zhang Yuanju, saudara kembar Hangjun. Dia lebih beruntung dari sang kakak, pasalnya terlahir lebih normal dan bisa beraktivitas layaknya pemuda seumurnya. Hanya keterbelakangan mental yang membatasi gerak Yuanju dalam lingkungan sosialnya. Zhang Yuanju sangat menyukai piano. Sang ibu yang melihat bakat anaknya itu rela menemaninya berlatih piano. Karena ketidakmampuan keluarga Ma, sang guru piano yang terketuk hatinya mewariskan sebuah piano untuk Yuanju. Seperti dilansir situs Channel NewsAsia, Ma mengatakan kini yang bisa dilakukan hanyalah mengajarkan Yuanju dalam merawat dirinya sendiri dan juga sang kakak, karena Ma sadar tidak akan dapat mendampingi kedua anak tercintanya untuk selamanya.

  1. Rela Menjadi Kuda-Kudaan demi mendapatkan uang berobat anak

Seorang ayah (38 tahun) di Kota Heifei, Cina, rela menjadi ‘kuda-kudaan’ di emperan jalan demi mengumpulkan kepingan receh untuk pengobatan anak tercintanya, yang menderita penyakit kanker sel darah putih atau Leukimia.

Cara tak biasa yang dia lakukan ini dengan memakai topeng kuda dan menawarkan para pejalan kaki menaiki badannya layaknya kuda. Dia memasang tarif sebesar lima kuai atau setara dengan 12 ribu rupiah untuk sekali ditunggangi.

Setelah putranya terdiagnosa Leukimia pada 2011, sang ayah membutuhkan biaya sebesar USD 32.000 atau setara dengan Rp 384 juta untuk membayar biaya pengobatan Kemoterapi sang anak. Tidak hanya itu dia pun masih harus membayar utangnya yang mencapai USD 26.000 atau setara dengan Rp 312 juta. Parahnya ketika Maret lalu kondisi sang anak makin kritis, sang ayah memohon pihak rumah sakit agar bisa merawat kondisi putra tercintanya lebih intens.

Dalam foto yang sekarang viral di jejaring sosial ini, sang ayah rela berlutut membungkuk seperti kuda, dengan memasang poster besar bergambar sang anak yang terbaring lemah di rumah sakit, dan nomer rekeningnya bila ada donatur yang ingin menyumbang. Dalam poster itu juga bertuliskan ‘sekali naik 5 Kuai, orang baik pasti akan naik’.

Sang ayah mengaku aksinya mendapat simpati publik yang luar biasa, setiap hari ada saja donatur yang mengirimnya sejumlah uang bahkan ada yang sampai mendatanginya secara langsung dan menawarkan jumlah sumbangan yang tidak sedikit.

  1. Kisah heroik Ibu di Jepang.

Apakah kamu ingat pada tahun 2011, tepatnya di bulan Oktober, terjadi sebuah gempa bumi yang cukup dashyat di Jepang? Gempa bumi itu tentu saja membuat kerugian yang sangat besar untuk semua pihak. Banyak sekali korban berjatuhan didalam gempa bumi tersebut.

Saat gempa bumi telah reda, regu penyelamat pun tiba untuk mencari para korban yang selamat, serta memeriksa keseluruhan wilayah yang terkena gempa. Regu penyelamat akhirnya sampai di depan reruntuhan sebuah rumah milik seorang wanita muda. Setelah ditelusuri sampai ke dalam, regu penyelamat menemukan sang pemilik rumah telah menunduk ke arah depan, dengan tangan seperti memeluk sekaligus melindungi suatu hal.

Mengira perempuan tersebut masih hidup, regu penyelamat lantas mencoba mengangkatnya dari celah-celah, ternyata wanita itu telah tiada. Ketika para regu penyelamat hendak meninggalkan lokasi, tiba-tiba ketua regu penyelamat melihat seorang bayi!! Ya, bayi tersebut terbaring tepat di ruang kosong yang dijaga erat oleh perempuan yang merupakan Ibu dari bayi lelaki berusia 3 bulan tersebut. Bayi tersebut sedang tertidur nyenyak, tentu saja regu penyelamat segera menyelamatkannya. Satu hal yang paling mengejutkan, didalam balutan selimut bayi, terdapat sebuah telepon dengan layar tertuliskan, “Jika kamu hidup, kamu harus ingat bahwa ibu sayang kamu.”

  1. Kisah Nyata: Ketika Ibu Cuci Muka Dengan Darah Nifas Putrinya

Sebuah kisah nyata yang membuat miris setiap pembaca dan pendengar dimana saja berada. Seorang wanita yang mulai tumbuh dewasa, akhirnya mendaftarkan diri menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus kota Malang. Sebagai orangtua, tentu saja berbahagia atas apa yang capai oleh putri tercintanya. Khususnya sang Ibu, selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.

Sang Ibu-pun memulai memberikan pesan-pesan moral kepada putrinya agar senantiasa menjaga diri. Kewajiban orangtua adalah selalu memberikan bekal materi, nasehat dan do’a. Salah satu pesan seorang Ibu kepada putri tercintanya adalah, jangan keluar malam, belajar sungguh-sungguh, jangan berpacaran. Karena yang demikian itu sama dengan menyakiti dan melukai hati kedua orangtua, serta melanggar ajaran Rosulullah SAW.Mendengar petuah sang Ibu, mahasiswi itu manggut-manggut, sebagai bukti bakti seorang anak kepada kedua orangtua. Orangtua memang memiliki hak penuh atas anak-anaknya. Wajar, jika kemudian seorang Ibu berpesan demikian kepada putrinya, serta anak-anaknya semua.

Sebuah kisah menarik terkait dengan hak orangtua atas anaknya. Di jaman Rasulullah SAW, ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW.Karena si ayah mengambil telah harta milik anaknya itu. Rasulullah SAW lantas memerintahkan anak lelaki itu agar supaya memanggil ayahnya. Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu.

Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepadanya :“Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” ?. Kemudian lelaki itu menjawab dengan agak kesal:“Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah!. Kemudian orangtuanya sedikit memberikan penjelasan:’’Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”jawab orang tua itu.

Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi:, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”

Maka berceritalah si ayah ini.“Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Mendengar hal ini, maka Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya. Hadis di atas menceritakan betapa besar pengorbanan orangtua, sehingga orangtua memiliki hak mutlak atas anak-anaknya. Seandainya, semua jiwa raga sang anak dikorbankan untuk anaknya, tidak akan cukup untuk membalas kebaikan dan pengorbanan seorang ayah dan ibu terhadap anaknya.

Masih terkait dengan perilaku mahasiswi terhadap ibunya. Ketika sudah menjadi mahasiswi, dimana kehidupan dunia kampus begitu panas dengan dunia percintaan dan pacaran. Lelaki dan wanita sudah biasa bersama-sama, walaupun belum menikah. Bahkan, berdua-duaan sampai malam larut tidak menjadi masalah, walaupun mereka tahu kalau hal itu dilarang agama dan juga melukai hati kedua orangtuanya.

Ketika di ingatkan orangtuanya, atau saudara-saudaranya mahasiswi itu selalu menjawab:’’aku tidak pacaran, aku cuma teman biasa…! Padahal semua orang tahu, kalau dirinya itu berpacaran dan telah menodai agama dan petuah orangtuanya.

Setiap hari, mahasiswi ini selalu menampakkan sikap yang tidak patuh kepada Ibunya. Padahal sang Ibu pontang panting mencari duit untuk biaya kuliah dan uang saku. Ratusan juta sudah dikeluarkan untuk mengantarkan putrinya meraih cita-citanya. Orang Jawa bilang;’’kepala di jadikan kaki, kaki dijadikan kepada demia masa depan anak-anaknya’’.

Tetapi, karena dunia kampus begitu keras dan panas dengan segala persaingan cinta. Maka, nasehat orangtua seringkali ditinggalkan, bahkan tidak pernah direken sama sekali. Sebab, cinta itu telah membutakan dirinya. Bahkan semakin hari hubungan dengan lawan jenisnya semakin akrab, sehingga nyaris membahayakan sebagai seorang wanita muslimah. Tidak ada cara lain bagi orangtuanya, kecuali segera menikahkan keduanya dari pada harus menderita setiap menyaksikan putri dan lelaki itu selalu berdua kemana-mana tanpa ikatan nikah.

Akhirnya, menikahlah kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Setelah menikah, keduanya terlihat bahagia, karena kedua merasakan bahwa pasangannya adalah pilihan tuhan. Memang benar begitu. Tetapi, keduanya tidak merasa bahwa selama ini telah menyakiti hati kedua orangtua yang selama ini mengorbankan jiwa dan raga atas kelahirannya serta menyekolahkan dengan biaya yang cukup mahal.

Setahun kemudian, sang putri hamil. Ketika melahirkan, terjadi pendarahan yang begitu hebat. Berbagai cara telah dokter dilakukan untuk menyelamatkan putrinya. Ternyata darah tetap deras mengalir. Orangtua terus menerus beristighfar kepada Allah SWT memohonkan ampun kepada Allah SWT atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh putrinya. Tetapi, darah itu tetap saja mengalir deras, seolah-olah tidak mau berhenti.

Sang Ibu yang selama ini sering dikecewakan oleh putrinya semasa menjadi mahasiswa, akhirnya melakukan cara aneh, unik, tergolong nekad. Karena cara ini tak lazim dilakukan. Betapa terkejut anak dan menantunya, darah yang mengalir di ambil dan membasuhkan ke mukanya berkali-kali. Sambil berlinang air mata, ibu it terus membasuhkan dara nifas sang putri ke mukanya. Dengan ijin Allah SWT, tiba-tiba darah nifas itu berhenti (mampet). Orangtua mau melakuan ini demi putrinya, sementara sang putri masih belum merasakan kalau dirinya telah melukai hati sang Ibu salama menjadi mahasiswi.

Lagi-lagi, keajaiban muncul. Keikhlasan dan ketulusan seorang Ibu di dalam mengorbankan dirinya tidak ada batasan. Adakah kalimat yang lebih indah dan pantas untuk diucapkan kepada orangtua? Ketulusan Ibu dan ayah mampu menggegerkan penduduk langit. Para malaikat pun mengucapkan amin, ketika ayah ibu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian, adakah pengorbanan anak yang lebih besar melebihi pengorbanan ayah bunda?

KESIMPULAN

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh semua anak. Orang tua akan melakukan apa saja untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya. Bahkan, ketika itu mengorbankan jiwa dan raganya, orang tua seakan tak peduli asalkan dia bisa membuat anaknya bahagia. Berbakti kepada orang tua tidak dibatasi saat mereka masih hidup, setelah mereka meninggal pun kita masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepadanya.

Ada 3 amalan yang paling dicintai Allah, yaitu : 1) Shalat pada waktunya. 2) Berbakti kepada orang tua. 3) Jihad di jalan Allah.

Berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang dicintai oleh Allah. Beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua adalah :

  • Mendoakannya
  • Menunaikan janjinya
  • Silaturrahmi

 

Iklan

PEMBUATAN LARUTAN

  1. PENDAHULUAN
    • Tujuan
  • Untuk mengetahui teknik pembuatan larutan.
  • Untuk mengetahui bagaimana menentukan konsentrasi, Molaritas, dan Normalitas.
  • Untuk mengetahui cara mengencerkan larutan.
    • Manfaat

mengetahui bagaimana cara membuat larutan dan cara mengencerkan suatu larutan. Sehingga dapat menjadi pengetahuan dasar bagi praktikan dalam membuat dan mengencerkan larutan pada praktikum selanjutnya.

  • Dasar Teori

Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.  Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas (Anonim, 2014).

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.

Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar soluteSolute adalah zat
terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam
mana solute terlarut (Baroroh, 2004).

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari cara pembuatan larutan dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk menyatakan kepekaaan atau konsentrasi suatu larutan dapat di lakukan berbagai cara tergantung pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk menentukan kepekaan larutan adalah molaritas. Molaritas, persen berat, persen volume, atau sebagainya (Faizal,2013).

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Brady, 2000).

Rumus sederhana pengenceran menurut Lansida (2010), adalah sebagai berikut :

M1 x V1 = M2 x V2

Dimana :

M1 = Molaritas larutan sebelum pelarutan

V1 =  Volume larutan sebelum pelarutan

M2 = Molaritas larutan sesudah pelarutan

V2 = Volume Molaritas larutan sesudah pelarutan

  1. METODE PRAKTIKUM
    • ALAT
  • Erlenmeyer
  • labuukur
  • pipet tetes
  • pipet ukur
  • batang pengaduk
  • timbangan analitik
  • karet penghisap
  • lemari asam
  • beaker glass
  • corong
    • BAHAN
  • NaOH 1,5 gram
  • CH3COOH 95%
  • H2SO4 97%
  • HCl 37%
  • Aquadest
  • Alumunium foil
    • Prosedur Kerja
      • Untuk zat asal padatan
  1. Hitung jumlah zat yang diperlukan
  2. Timbang zat tersebut dengan menggunakan timbangan analitik
  3. Zat dimasukkan kedalam gelas kimia, zat yang tertinggal disemprot dan dibilas dengan aquadest
  4. Aduk hingga semua zat terlarut dalam aquadest
  5. Pindahkan larutan kedalam labu ukur yang sudah dipasang corong
  6. Zat yang tertinggal disemprotkan dan dibilas dengan aquadest
  7. Tambahkan aquades dengan hati-hati sampai tanda tera
  8. Tutup labu ukur dan kocok sampai homogen
  9. Pindahkan larutan kedalam Erlenmeyer
  10. Tutup Erlenmeyer dengan alumunium foil
    • Untuk zat asal cairan
  11. Hitung volume larutan yang dibutuhkan
  12. Pipet larutan tersebut dan masukkan kedalam labu ukur
  13. Tambahkan aquadest hingga tanda tera
  14. Tutup labu ukur dan kocok hingga homogeny
  15. Pindahkan larutan kedalam Erlenmeyer
  16. Tutup Erlenmeyer tersebut dengan alumunium foil
  • PEMBAHASAN
    • Hasil pengamatan
    • Pembahasan

Pada praktikum ini dilakukan pembuatan dan pengenceran larutan. Untuk pembuatan larutan larutan, bahan yang digunakan adalah NaOH padat. sedangkan pada pengenceran larutan, bahan yang digunakan adalah CH3COOH, H2SO4 dan HCl.

Larutan adalah campuran antara dua zat atau lebih. Suatu campuran dapat dikatakan sebagai larutan apabila telah homogen sehingga tidak dapat dibedakan lagi antara pelarut dan zat terlarut.

Pengenceran adalah penambahan zat terlarut sehingga jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut
sesudah pengenceran.

Pembuatan larutan dan pengenceran larutan harus dilakukan dengan hati-hati di lemari asam karena larutan tersebut memiliki konsentrasi tinggi dan supaya tidak terjadi kecelakaan kerja dan kontaminasi udara pada ruang laboratorium.

Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.  Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan.

Untuk membuat larutan NaOH 1,5 M sebanyak 25 ml dari bahan padat, dibutuhkan padatan NaOH sebanyak 1,5 gram. Bahan tersebut ditimbang dengan menggunakan neraca analitik lalu dilarutkan dengan aquades pada labu ukur hingga homogeny. Suatu campuran dapat dikatakan sebagai larutan apabila telah homogen sehingga tidak dapat dibedakan lagi antara pelarut dan zat terlarut.

Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting.

Pengenceran larutan CH3COOH dari konsentrasi 95% menjadi konsentrasi 2% dilakukan dengan mengambil 0,52 ml larutan CH3COOH konsentrasi 95%. Larutan tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 25 ml dan ditambahkan aquades hingga tanda tera.

Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia.

Pengenceran larutan H2SO4 dari konsentrasi 97% atau 36,42 N menjadi konsentrasi 1,5 N dilakukan dengan mengambil 1,02 ml larutan H2SO4 konsentrasi 97%. Larutan tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 25 ml dan ditambahkan aquades hingga tanda tera. Pada pengenceran asam sulfat ini, sejumlah panas dilepaskan. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit.

Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.

Pengenceran larutan HCl dari konsentrasi 37% atau 12,06 N menjadi konsentrasi 1,5 N dilakukan dengan mengambil 3,10 ml larutan HCl konsentrasi 37%. Larutan tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 25 ml dan ditambahkan aquades hingga tanda tera.

 

  1. PENUTUP
    • Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

  • Teknik pembuatan larutan dapat di lakukan dengan cara mencampurkan dua larutan atau lebih.
  • Untuk membuat suatu larutan, pertama hitung massa bahan yang akan dibuat larutan dengan menggunakan rumus molaritas atau normalitas.
  • Teknik pengenceran larutan yang benar adalah mencapur larutan dengan bahan pelarut murni agar diperoleh volume konsentrasi yang lebih rendah.
  • Untuk  pengenceran, pertama dihitung terlebih dahulu volume larutan yang akan diencerkan denga menggunakan rumus pengenceran yaitu M1 x V1 = M2 x V2. Setelah itu campur dengan menggunakan zat pelarut aquadest lalu homogenkan.
    • Saran

Pada praktikum ini dibutuhkan pemahaman prosedur kerja dan ketelitian dalam menghitung dan menimbang bahan. Oleh karena itu pemahaman dan ketelitian perlu di tingkatkan.

 

 

 

GULA REDUKSI

Tugas 1 (Gula Reduksi)

  1. Jelaskan apa yang disebut dengan gula reduksi?
  2. Sebutkan jenis-jenis gula reduksi !
  3. Sebutkan beberapa uji untuk mendeteksi gula reduksi dan jelaskan bagaimana metodenya !
  4. Jelaskan tentang reaksi Maillard !

Jawab

  1. Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi. Hal ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas. Senyawa-senyawa yang mengoksidasi atau bersifat reduktor adalah logam-logam oksidator seperti Cu (II).
  2. Karbohidrat mempunyai jenis gula pereduksi yaitu jenis gula yang dapatmereduksi karena adanya gugus aldehida dan gugus keton.
  3. Beberapa uji yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gula reduksi antara lain:
  • Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya karbohidrat. Uji ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat membentuk cincin furfural yang berwarna ungu. Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu di purmukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel. Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu α-naphthol yang terlarut dalam etanol. Setelah pencampuran atau homogenisasi, H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya membentuk lapisan.
  • Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict. Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).
  • Uji Barfoed merupakan salah satu cara analisa karbohidrat secara kualitatif.  Uji Barfoed adalah uji kimia yang digunakan untuk mendeteksi adanya monosakarida dalam suatu sample.  Prinsip uji barfoed ini didasarkan pada pengurangan tembaga (II) asetat (Kupri asetat) menjadi tembaga (I) oksida (Cu2O/kuprioksida), sehingga terbentuk endapan merah bata. Prosedur percobaan uji barfoed ini adalah sampel dipipet sebanyak 1 ml kemudian ditambah 1,5 tetes larutan barfoed, panaskan 15 menit dan kemudian amati terbentuknya endapan merah bata.
  1. Mailard adalah reaksi kimia antara asam amino dan gula pereduksi yang menyebabkan terjadinya pencoklatan. Reaksi maillard di sebut juga sebagai reaksi pencoklatan non enzimatis (Browning   non Enzimatis). Disebut dengan reaksi Mailard karena reaksi ini pertama kali di deteksi oleh seorang ahli kimia Prancis, Louis-Camille Maillard, pada tahun 1912 ketika sedang mencoba untuk mereproduksi sintesis protein. Reaksi maillard biasanya terjadi dengan bantuan panas yaitu ketika bahan makanan sedang di masak atau di keringkan.

[PAPER] PENGERINGAN JAMUR TIRAM

 

TUGAS PAPER

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN

“PENGERINGAN JAMUR TIRAM”

LOGO

DISUSUN OLEH :

ANISA TARTILATUL HASANAH

B32160230

GOLONGAN A

TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN

 

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2017

PENDAHULUAN

Jamur tiram merupakan salah satu komoditi pangan yang ada di Indonesia. Jamur tiram memiliki kandungan protein tinggi, vitamin dan mineral, serta rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur tiram telah banyak dikenal oleh masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia. Permintaan pasar akan jamur tiram terus meningkat, baik itu dalam bentuk segar maupun olahan.

Kandungan air yang tinggi pada jamur tiram menyebabkan jamur tiram tidak dapat bertahan lama atau memiliki masa simpan yang singkat. Oleh karena itu, saat ini telah banyak dilakukan pengawetan jamur tiram, salah satunya dengan cara pengeringan.

Pengeringan merupakan suatu proses penghilangan sejumlah air pada bahan pangan sampai pada kadar air yang dikehendaki. Pengeringan dapat meningkatkan masa simpan suatu bahan pangan karena akan terjadi pengurangan kadar air sehingga perkembangan mikroorganisme terhambat. Hal ini akan membuat bahan pangan memiliki masa simpan lebih lama.

PEMBAHASAN

  1. PROSES PENGOLAHAN JAMUR TIRAM

Sebelum dikeringkan, terdapat beberapa proses pengolahan yang harus dilakukan pada jamur tiram. Proses pengolahan yang pertama kali dilakukan adalah sortasi pada jamur tiram segar. Sortasi merupakan proses pengelompokan bahan berdasarkan sifat fisik. Sortasi ini dilakukan agar diperoleh ukuran jamur tiram yang sama pada proses pengeringan. Ukuran yang sama akan membuat laju peneringan yang sama pada bahan. Apabila jamur tiram yang berukuran besar dan kecil dicampur pada saat pengeringan, maka pengeringan akan terjadi lebih cepat pada jamur tiram yang memiliki ukuran kecil.

Setelah didapatkan hasil sortasi, jamur tiram ditimbang dengan perbandingan 2:1 (tudung dan tangkai). Jamur yang telah ditimbang kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran atau benda asing yang terdapat pada jamur tiram. Jamur yang bersih lalu dipotong-potong atau dikecilkan ukurannya agar diperoleh luas permukaan yang lebih besar. Luas permukaan yang besar dapat membantu proses pengeringan menjadi lebih cepat.

Langkah selanjutnya adalah blansing selama 3-5 menit. Blansing adalah suatu cara pemanasan pendahuluan atau perlakuan pemanasan sebelum dilakukan pengeringan. Proses blansing pada jamur dilakukan dengan suhu 82-90°C selama 3-5 menit. Tujuan blansing yaitu menginaktifkan enzim, menghilangkan kotoran dan mengurangi jumlah mikroorganisme yang terdapat pada jamur tiram. Blansing dilakukan dengan cara merendam jamur tiram dalam air panas (merebus) atau dengan uap air (steam blansing). Setelah diblansing, jamur tiram ditiriskan lalu ditimbang untuk menegahui berat bersih setelah dilakukan beberapa proses seperti pencucian, pengecilan ukuran, dan blansing. Jamur yang sudah ditimbang kemudian mulai dilakukan proses pengeringan dengan metode pengeringan vakum.

2. METODE PENGERINGAN YANG DIGUNAKAN

Pengeringan bahan pangan memiliki banyak jenis diantaranya adalah pengeringan langsung, pengeringan dengan mesin pengering, dan pengeringan dengan pembekuan (freeze drying). Metode pengeringan yang digunakan pada produk jamur tiram kering adalah pengeringan dengan mesin pengering, lebih tepatnya menggunakan pengeringan vakum (vacuum drying).

Pengeringan vakum merupakan suatu proses pengeringan bahan pangan yang dilakukan dengan cara menurunkan tekanan parsial uap air dari udara didalam ruang pengering. Penggunaan metode ini dapat membuat proses pengeringan jamur tiram berlangsung lebih cepat karena tekanan uap air dalam udara lebih rendah daripada tekanan uap air pada atmosfir. Hal tersebut dapat membuat jamur tiram tetap memiliki kualitas yang baik karena kandungan gizi pada jamur tiram tidak akan rusak akibat suhu tinggi.

3. KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN PRODUK

Jamur tiram yang telah dikeringkan memiliki keunggulan dan kekurangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No. Keunggulan Kekurangan
1. Memiliki masa simpan yang lebih lama Kemungkinan menurunnya nilai gizi
2. Dapat diolah menjadi beberapa varian olahan pangan yang berbeda.  
3. Memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada jamur tiram segar  

 

 

 

  • KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengeringan vakum dapat dilakukan pada produk jamur tiram yang memiliki kadar air tinggi. Pengeringan vakum dapat menurunkan kadar air lebih cepat dan dapat meminimalisir menurunnya kandungan gizi pada jamur tiram.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Pengertian Jamur dan Manfaat Jamur Tiram Putih”. 23 Maret 2017. http://ascopersada.blogspot.com/2010/04/pengertian-jamur-dan-manfaat-jamur.html?m=1

Asgar, A., S. Zain., A. Widyasanti., dan A. Wulan. 2013. Karakteristik Proses Pengeringan Jamur Tiram (Pleurotus sp.) menggunakan Mesin Pengering Vakum. J. Hort, 23 (4) : 379-389.

 

[RESUME] ENZIM ALFA-AMILASE

RESUME BIOKIMIA PANGAN

“ENZIM α-AMILASE’

LOGO

OLEH : KELOMPOK 1 GOLONGAN A

AMRINA ROSYADA (B32160064)

FAHMI FACHREZY (B32160128)

SAFIRA TRIA ISROFIAH (B32160152)

SIFA ULMILLAH (B32160196)

RISKA HIDAYATI (B32160229)

ANISA TARTILATUL HASANAH (B32160230)

 

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2016

 

 

 

ENZIM ALFA AMILASE (α-amilase)

Pada enzim α-amilase yang berasal dari Pseudomonas stutzeri, pemecahan dibantu oleh tiga residu asam amino yaitu asam glutamat 219, asam aspartat 294, dan asam aspartat 193. Tahapan pertama merupakan pengikatan substrat oleh asam aspartat 294.

Tahap selanjutnya yaitu asam glutamat 219 dalam bentuk asam akan mendonorkan proton ke oksigen pada ikatan glikosidik substrat. Produk dari reaksi tersebut  adalah sebuah ion oksokarbonium pada keadaan transisi yang diikuti dengan pembentukan kovalen intermediet. Molekul H2O kemudian menyerang ikatan kovalen antara oksigen dan residu asam aspartat 193. Asam glutamat kemudian menerima H dari molekul H2O dan residu asam aspartat 193 membentuk gugus hidroksil baru pada molekul glukosa [13]. Ilustrasi ditampilkan dalam gambar 2.

MEKANISME PEMECAHAN PATI

Enzim APPM dapat ditemukan dari berbagai jenis makhluk hidup seperti tanaman, hewan, manusia, hingga mikroba.

Enzim APPM yang berasal dari mikroba umumnya mempunyai spektrum yang lebih luas dalam industri sebab sifatnya lebih stabil jika dibandingkan dengan enzim APPM yang berasal dari tanaman dan hewan[3]. Enzim APPM diduga mempunyai daerah pengikatan pati yang lebih banyak dibandingkan amilase konvensional sehingga mampu berikatan dengan granula pati mentah. Daerah pengikatan pati tersebut mengandung sekitar 50-100 asam amino dengan susunan residu asam amino tertentu sehingga mampu berinteraksi kuat dengan residu glukosa pada amilosa dan amilopektin[15].

Αlfa amilase dari Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012 memiliki karakteristik berupa waktu inkubasi optimum sebelum purifikasi dan setelah purifikasi berturut-turut sebesar 42 menit dan 40 menit, pH optimum dan suhu optimum setelah purifikasi sebesar 4,9 dan 23ºC.

Alfa amilase dapat ditemukan dari berbagai sumber diantaranya, tumbuhan,hewan dan mikroorganisme. Sumber α-amilase yang banyak digunakan berasal dari mikroorganisme karena mikroorganisme mudah tumbuh tanpa dipengaruhi musim, cepat menghasilkan enzim dan lingkungan tumbuhnya dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan. Salah satu jenis mikroorganisme yang mampu menghasilkan α-amilase adalah Saccharomyces cerevisiae [17].

Produksi α- Amilase

Langkah awal dalam proses produksi α-amilase yaitu pembuatan starter khamir Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012.Kemudian pemberian media starter pada media fermentasi dengan volume yang lebih besar.Komposisi media produksi tersebut memiliki komposisi yang sama dengan media fermentasi dalam proses peremajaan. Pada media ini amilosa digunakan sebagai sumber karbon untuk memproduksi α-amilase.

Isolat Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012 ditumbuhkan sampai waktu eksponensialnya, yaitu 72 jam atau 3 hari (sesuai dengan data kurva pertumbuhan dimana Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012). Pemanenan yang dilakukan pada waktu yang terlalu singkat akan menghasilkan enzim yang sedikit karena, mikroba yang belum beradaptasi dengan lingkungannya. Nutrien yang berbentuk polimer tidak dapat memasuki sel mikroba secara langsung. Polimer ini akan dicerna terlebih dahulu oleh enzim-enzim ekstraseluler yang di sekresikan oleh mikroba (Suhartono, 1989). Produksi enzim-enzim mikrobial memanfaatkan amilosa sebagai substrat untuk menghasilkan α-amilase. Hasil produksi α-amilase dilanjutkan dengan disentrifugasi untuk memisahkan media yang mengandung _-amilase dengan sel Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012 sehingga dihasilkan filtrat yang berisi ekstrak kasar enzim dan terpisah dari sel khamir serta sisa-sisa media yang tidak larut. Sentrifugasi pada suhu dingin bertujuan untuk meminimalkan kerusakan enzim. Sel Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012 yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan enzim ekstraselulernya akan mengalami gaya sentrifugal yang lebih besar pada kecepatan radial dan jarak putar yang sama. Akibatnya, sel akan mengendap dan enzim akan tetap berada pada bagian filtrat.

 

 

PEMANFAATAN ENZIM α-AMILASE

Penggunaan enzim ini dalam industri berbasis pati dilaporkan telah mengurangi biaya produksi secara signifikan jika dibandingkan dengan proses konvensional. Selain itu, penggunaan enzim tersebut juga menghemat waktu dan energi produksi karena tidak memerlukan proses gelatinisasi.

Beberapa pemanfaatan enzim α-amilase dalam industri pangan antara lain :

  • Industri pati, Enzim α-amilase merupakan enzim yang digunakan dalam pengolahan industri pati, yang berfungsi untuk menghidrolisis polisakarida menjadi gula sederhana.
  • Industri roti dan kue, penambahan enzim α-amilase akan memperbaiki tekstur roti dan kue.
  • Industry minuman beralkohol, enzim α-amilase digunakan sebagai katalis untuk mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat diubah menjadi etanol.
  • Industry susu, α-amilase pada susu digunakan sebagai indeks dari efisiensi proses pateurisasi.Enzim ini aktif pada pH optimal 7,4 dan inaktif pada pemanasan 45-60oC selama 30 menit.
  • Industry sirup, enzim α-amilase digunakan sebagai biokatalis dalam proses hidrolisa pati menjadi glukosa
  • Industri sagu, enzim α-amilase digunakan sebagai katalis dalam proses hidrolisis pati sagu menjadi maltodesktrin

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Syaiful., M. Mirzan, M. Hasan. 2012. Karakterisasi Enzim Amilase dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays certain L.). Natural Science, 1(1) : 132-143.

Handayani, Hanik., P. Siwi R., dan N. Rokhati. 2013. Depolimerisasi Kitosan dengan Hidrolisa Enzimatik Menggunakan Enzim α-amilase. Teknologi Kimia dan Industri, 2(4) : 55-64.

Nangin, Debora., dan A. Sutrisno. 2015. Enzim Amilase Pemecah Pati Mentah dari Mikroba. Pangan dan Agroindustri, 3(3) : 1032-1039.

Sari, Dewi Permata., Wuryanti., K. Anam. 2013. Isolasi, Purifikasi dan Karakterisasi α-amilase dari Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012. Chem Info, 1(1) : 337-344.

Supriyatna, Ateng., D. Amalia., A. A. Jauhari., D. Holydaziah. 2015. Aktivitas Enzim Amilase, Lipase, dan Protease dari Larva. Edisi Juli, 9(2) : 18-32.

 

UJI SANITASI PEKERJA PENGOLAHAN PANGAN

Uji sanitasi pekerja perlu dilakukan dalam sebuah proses pengolahan pangan. Adanya sanitasi pekerja akan membantu mengurangi mikroorganisme yang terdapat pada pekerja. Para pekerja dapat menjadi penyebab kontaminan pada bahan pangan, kontaminan tersebut dapat menyebar melalui tangan dan rambut.

Pada tanggal 13 Maret 2017 dilakukan uji sanitasi pekerja oleh Golongan A Program Studi Teknologi Industri Pangan 2016, Politeknik Negeri Jember. Uji ini dilakukan dengan metode TPC (total plate count) dengan menggunakan beberapa media yang berbeda, seperti EMBA (Eosin Methylen Blue Agar), PCA (Plate Count Agar), PDA (Potato Dextrose Agar), dan NA (Nutrient Agar).